Jumat, 15 Januari 2016

EXISTENSIALISM IN ALBERT CAMUS’ “THE STRANGER”: A DUALITY OF LIFE AND DEATH, AND ABSURDITY


 
A Picture of Sisyphus


INTRODUCTION
Existentialism is defined as "a philosophical theory or approach that emphasizes the existence of the individual person as a free and responsible agent determining his or her own development through acts of the will”. (Galens: 2002) In other words, existentialism emphasizes individual freedom. Meanwhile, in the context of life, absurd means irrational or illogical thing. Camus’ absurdity (reflected in the novel) emphasizes the contradiction between individual desires with reality. This irrational situation is found in human life when the desire of their irresistible looks for a clarity in the obscurity of this world. Man as an existence character has the freedom to be themselves, instead the world limit their freedom as a human being. Camus assessed the relationship between humans, life and death as an absurd thing.

Throughout “The Stranger”, the amount of existentialism and absurdism views are varies. The use of Mersault’s experiences (as the major character in the novel) conveys the idea that human life has no meaning except for simple existence (life then death). The issue of existentialism and absurdism in Albert Camus' “The Stranger” reflect through Mersault's life experiences with his relationship with Marie, the death of his mother (Maman), the murdering of the Arab, and Mersault's trial and execution, all those events show that Mersault’s life as no meaning. (See Albert Camus’ “The Stranger” Novel)

A DUALITY OF LIFE AND DEATH, AND ABSURDITY
It is such an irony to say that the existence of a beginning must be ended with an ending - that human life must be finalized by a finish point called death. Talking about ‘life’, people will blow their mind to such a question about death. Death is something absolute and absurd, ‘death’ become a final destination that every existence, humans, animals, plants, things, and other existences in the world will experience, but there is nothing can tell about what will happen in afterlife. Everything has their own belief about death. Etruscan creates a version about death with a green giant monster who wait for cowards against Romanian. Buddhist believes in reincarnation, while Moslem, and Christian believe about an afterlife resurrection that everybody will resurrect and it depends on merits and sins that they did during life. However, when life and death can be valued and defined by people, it means it has no value and meaningless at all.

At this point, I am concern to the stage of existence, that life and death might have no value as the absurd things. Even each of us are focusing to make merits and avoid sins as more as possible during our life. Each of us are more concern about ‘the payday’ (death) to determine whether heaven or hell as the final destination after life. In this case we are not comprehend fully on experiencing our life since we only do merit for something-a better life afterlife without living the life itself.

Mersault as the prior character in Albert Camus’ “The Stranger” is symbolized vanity. For Meursault, life and death are a series of absurdities that must be accepted as reasonable and as the absolute thing. As a quotation below about the death of her Mother:
(1) “Maman died today. Or yesterday maybe, I don’t know. I got a telegram from the home: ‘Mother deceased. Funeral tomorrow. Faithfully yours.’ That doesn’t mean anything. Maybe it was yesterday.” (Camus, 1985:1)
(2) “It occurred to me that anyway one more Sunday was over that Maman was buried now, that I was going back to work, and that, really, nothing had changed.” (Camus, 1985:20)

(3) She said, "if you go slowly, you risk getting sunstroke. But if you go too fast, you work up a sweat and then catch a chill inside the church." She was right. There was no way out. (Camus, 1985:3)

(1) The opening sentences of the novel embodies Meursault’s absurdist outlook on life, his emotional indifference and detachment to people, and his passive but quiet alienation from the rest of society. It’s also a big flashing clue that this character is unaware and apathetic. He doesn’t even know which day his mother died, and to him, it "doesn’t mean anything" anyway.

(2) Meursault is able to say that "nothing had changed" after Maman died since he wasn’t living with her anyway. This makes sense practically, but not emotionally (like many of Meursault’s beliefs)

(3) Camus explicitly pictured the essence of existentialsim as something absolute by a dialog between the nurse and Mersault. The nurse speaks of both weather and human condition. The sun's heat is inescapable, just as death is inescapable. There was no way out except through acceptance.

A CASE OF EXISTENTIALISM AND ABSURDITY
Today we may not face any kind of absurdity as irrational act (subjectively, irrational act can be rational for some people or vice versa), we may not see people like Mersault anymore. We might not think and sincere about something just happened to us. A case of life and death as an absolute thing is not really recognize by some people. As cited in quotation (3) that we cannot escape from the consequences of life-whatever the form is.

Take an example. I just met a dustman-a poor little widower that-to through his life, he has to collect some waste products, then sell it to collector for him to fulfill their daily needs. Through several conversation about his life, he said;

(4)Untuk apa menyesali kematian istri saya, toh kita sudah dikasih hidup, ya harus terima juga dengan adanya kematian kan semuanya memang milik Tuhan. Toh juga menangis endak menyelesaikan masalah tho?”

(5) “Saya mah cuman jalanin hidup selama masih di dunia. Masalah penilaiannya biar urusan Tuhan saja”

From this conversation, this man shows no emotional feeling to what was happening to him (consider as irrational act). Though, he just think rationally about a case of life and its consequences. Instead, he just live his life. He said, he just do merit as he could live in this world without concerning about the term ‘payday’ afterlife, and let it judge by Him. It can be said as “everything happens for a reason”. I do determine this act is not irrational at all and I do determine it in a positive way.

The case of existentialism about life and death is inescapable by human as living character in this world. What people think about rational thought of life and death, and its consequence are changed by the influence of emotional feeling and the world is limit it. Thus, everything that happened just let it happened whatever the form of consequence is. Since life and death are the absolute and absurd things.

Minggu, 20 September 2015

"PAGI ITU SEDIKIT BERBEDA"

“A Journey To the West”


Pagi itu sedikit berbeda, tak seperti biasanya. Sinar mentari yang mulai menembus melalui celah-celah mulai membakar kayu-kayu yang memondasikan rumah panggung. Aroma kayu jati mulai terasa, terhirup melalui hidung.  Ketika kedua mata terbuka, rasa gigil mulai merasuki kedua pasang kaki yang dari semalam sudah terselimuti selimut yang cukup terbilang  tebal. Tersadar, ternyata diri ini tidak sedang berada di rumah. Kemarin malam, aku baru saja sampai di sebuah perkampungan sebelah barat provinsi Lampung. Suasana pagi yang begitu berbeda membuatnya lebih nyaman untuk menarik selimut lebih tinggi ketimbang melakukan aktivitas di pagi hari.


Pukul 10:00, aku mulai beranjak dari tempat tidur. Air mulai membasuh wajah, air yang bening dan terasa lebih dingin membuat bulu kuduk mulai berdiri. Ku buka jendela pintu dekat beranda sekedar untuk mempersilahkan angin menderu wajah, membiarkan mentari menghangatkan suasana. Sebatang lisong dan secangkir kopi hitam yang pekat hadir menemaniku duduk di depan beranda rumah. Aku dapat mendengar beberapa cicitan burung, dan deru angin yang memanjakan pepohonan untuk menari. Sungguh! suasana yang tak mungkin dapat ditemukan dikota.


Abu lisong tercecer di lantai, sangat berantakan. Seakan-akan sosok Bapak baru saja duduk menemani tepat disebelah kursi kosong itu. Mengusap rambutku dengan jemarinya yang halus dan dingin, mukanya tampak pucat, rambutnya mulai memutih. Bapak berbicara tentang Tuhan dan keluarga yang ditinggalinya. Bapak telah pergi meninggalkan kami tujuh tahun yang lalu. Bapak mengidap penyakit stroke yang sudah akut. Harta benda telah habis terjual demi menyembuhkan penyakit bapak. Tak sepeserpun warisan yang ia tinggali untuk keluarganya, hanya buku-buku tentang agama dan kepercayaan yang ia wariskan kepada anak-anaknya. Raut wajahnya menunjukkan penyesalan dan kekecewaan yang berarti.

“Carilah Tuhanmu dan Bahagiakanlah keluarga kita, nak....”

Tubuhku menyerap hangatnya sinar mentari pagi ini, perlahan mengeringkan bulir-bulir air yang jatuh membasahi pipi. Oh mentari... Mentari yang sama di pagi itu ketika bapak menutup kedua mata dan menghembuskan nafas terakhirnya.

***

Di kursi tua di diberanda rumah, seperti biasa aku mempunyai kebiasaan membiarkan tubuhku tersengat matahari pagi, dokter menganjurkan agar aku merutinkan diri untuk berjemur saat pagi hari demi menyembuhkan dari gejala kelumpuhan yang ku derita selama lebih dari 3 tahun belakangan ini. Aku sudah tak bisa lagi mencari nafkah, jalan pun harus dituntun.

Waktu itu aku ingat sekali, wajahku pucat menatap langit, lalu kemudian mulai memerah akibat sengatan matahari.
Aku berkata pada anak bungsuku....

“....Seperti roda, selalu berputar.. terkadang berada di atas, terkadang berada dibawah. Tapi untuk menggerakan sebuah roda itu membutuhkan usaha...”

Aku tersenyum padanya.. saat itu dia masih berumur 10, mungkin dia tak mengerti apa arti dari kata-kataku barusan.

***

Diberanda rumah ini, aku kembali mengulang kata-kata yang disampaikannya, aku mulai mengerti apa arti dari kata-kata itu, bahwa hidup manusia itu layaknya sebuah roda, ketika suatu sisi roda berada dibawah untuk merubahnya menjadi keatas harus membutuhkan sebuah usaha. Begitu juga dengan kehidupan, ketika merasa terpuruk salah satu cara untuk bangkit adalah berikhtiar.

Aku jadi teringat masa ketika keluarga kami sempat merasakan pahitnya hidup karena tak ada lagi biaya yang cukup untuk bertahan. Seorang Ibu yang memikul beban keluarga menjadi tulang punggung, berjuang sendirian untuk menyekolahkan anak-anaknya ke pendidikan yang lebih tinggi, dan seorang anak pertamanya yang membantu meringankan sedikit beban.

Aku tak begitu ingat bagaimana ceritanya. Maka  kuikuti dan kujalani saja kemana alur waktu membawa. Hingga aku telah berdiam sendiri diberanda rumah ini. Mengingat,  menikmati berkah dari-Nya.

Aku tersadar dari lamunanku, entah karena udara yang terlalu dingin atau gejala keterkejutanku dengan sosok mendiang bapak barusan. Seraya mengucap tahmid, aku membereskan abu lisong yang makin tercecer, tersapu oleh angin.

Suara adzan mulai berkumandang tanda waktu memasuki shalat ashar, tampak beberapa orang dengan pakaian putih bersih dan bersorban lengkap memasuki masjid tua yang masih begitu megah. Konon katanya masjid itu sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Ku mulai membasuh wajah lesu dengan air bening itu. Entah mengapa peribadatan kali ini sungguh membuatku tak nyaman. Aku merasa asing untuk berada disini ditengah para orang-orang yang sangat khidmat melakukan aktivitas pendekatan dirinya dengan Tuhan. Kulihat beberapa diantaranya menangis, seraya menengadahkan kedua tangan layaknya orang yang hina. Pemandangan kali ini sangat jarang kutemukan di sana, di kota tempat aku tinggal.

“Apa dosa yang telah mereka perbuat hingga mereka begitu tersedu menangisinya??”

Lamunanku terbuyar ketika suara yang tampak tak begitu asing menyapaku.

“Adzar... Apa kabar? Sedang berkunjung disini?”

Sosok paruh baya berjubah putih, lengkap dengan sorbannya muncul dari arah belakang. Kulihat senyum bapak itu terlukis diantara kulitnya yang sudah tak lagi kencang.

“Pak Anton... kawan ayahmu dulu..”

Terdiam sejenak, mencoba mengingat kembali nama orang yang sekarang sudah duduk berada tepat disampingku. “Pak Anton...” , siapa yang tak kenal dia, pengusaha muda kaya yang tinggal di kota, usahanya dimana-mana, rumah mewah dan lusinan mobil terparkir di halaman rumahnya.

“Iya pak, Adzar meyempatkan waktu untuk berkunjung  kesini, kuliah sedang libur”

“Wah.. Sudah besar ya sekarang... Bagaimana kabar keluarga, sehat?

“Alhamdullilah pak.. Ibu dan keluarga dirumah masih diberi kesehatan”

Matahari masih meninggi, satu persatu orang-orang mulai meninggalkan masjid, beberapa darinya masih ada yang memilih untuk berdiam. keadaan disini memang begitu menentramkan, ditambah dengan dinginnya angin yang masuk melewati pintu-pintu.

Pak anton mempersilahkan untuk bersilaturahmi kerumahnya, sekedar untuk menjamu tamu yang datang jauh dari kota. Setiba di depan rumahnya, kembali aku dikejutkan oleh sebuah pemandangan. Rumah yang terbilang sederhana dan sebuah motor Honda tua terparkir didepannya.

“...Apa benar ini rumah beliau? Kemana semua hartanya? Mengapa beliau sekarang berpenampilan sangat berbeda? Berpenampilan sederhana. Mobil yang dulu berjejer di pekarangan, kini hanya ada motor tua di depan rumahnya. Apa yang telah dialaminya?? Ah entahlah...”

Pak Anton memanggil istrinya, memperkenalkannya pada anak muda yang sudah duduk di ruang tengah beberapa menit yang lalu. Pak anton meminta untuk dibuatkan dua gelas kopi hitam. Tak selang beberapa lama dua gelas kopi hitam pekat ditambah sepiring pisang goreng yang masih hangat sudah berada di depan meja.

Menikmati kopi panas dan berbincang banyak hal. Pak Anton bercerita tentang alur yang membawanya ke titik dimana beliau harus mengulang kembali perjalanan hidupnya. Cerita yang memberikan kesan kesenduan sore hari itu. Beliau sempat terjerumus dan mendekam di balik jeruji besi. Sudah banyak orang yang ia tipu lantaran hedonisme dunia yang membutakan akal sehat manusia.

Beliau bercerita tentang sebuah perjalanan dimana ia menemukan titik balik. Sebuah kepasrahan yang membuatku teringat akan sebuah kutipan.

“...Pergilah ke lembah harapan, maka kau akan dapat mendengar suara Tuhan.”

Rotasi jarum jam mulai mencepat, senja sudah kembali keperaduannya untuk beristirahat, dua buah gelas yang semula terisi penuh kini tinggal ampas. Meski ku masih betah untuk duduk berlama-lama memperbincangkan gurauan tentang waktu.

Tak bisa terelakkan, bukan tidak penting dalam hal mengenang waktu, karena apa yang telah terjadi di masa lalu menentukan apa yang terjadi hari ini. Meskipun seorang sahabat berkata “...sungguh mubazir untuk menyesali waktu, toh itu pun sudah lewat, kita bisa apa?” Kemubaziran itu cukup adil ketika kita menyadari bahwa hidup sesungguhnya hanyalah sekedar “numpang lewat”. Terdengar klise. Tetapi memang begitulah kenyataannya.
Perjalanan hidup telah merelokasi kita dari setiap episode kehidupan ke episode selanjutnya. Waktu berlalu, episode berganti dan mengubah setiap orang yang ditemui menjadi orang lain, kembali setelah sebelumnya saling mulai mengenal sebagai orang yang lain.

***

Aku masih ingat ketika anak itu menangis minta diteteki oleh ibunya. Raungannya memanjakan telinga. Sekarang anak itu sudah dewasa, mirip sekali dengan bapaknya – pendiam, lugu, tapi selalu mempunyai tanda tanya besar di dalam kepalanya. Kemarin, ketika aku sempat bercerita tentang sebuah alur yang telah membawaku lebih mengenal apa tujuan hidup, tak henti-hentinya anak itu mencerocoskan pertanyaan-pertanyaan skeptis yang membuat bulu kudukku bergidik. Pertanyaan yang sama yang selalu berputar dalam fikiranku ketika usiaku memasuki 40.

Aku sudah tak lagi muda, meskipun “katanya” tak ada kata terlambat untuk bertobat. Namun, rongrongan penyesalan selalu membuntuti ketika istriku membasuh peluhnya akibat sengatan matahari di pematang sawah. Sesekali senyumnya merekah ketika anak kami datang membawa makan siang, pukul 12. Dia sangat mencintai anak itu. Meskipun anak itu tidak lahir langsung melalui rahimnya. 10 tahun lalu, ia kami bawa dari sebuah panti sosial ternama di kota. Berharap, aku dapat mewariskan harta yang aku kumpulkan ke generasiku selanjutnya. Lagi lagi, manusia cuma bisa berencana. Takdir berkata lain, rekeningku diblokir, harta-bendaku disita oleh beberapa pria berbadan tegap - berpakaian rapi dari salah satu institusi finansial. Syukurlah.. mungkin Tuhan tak rela melihat anak yang masih suci itu memakan uang haram yang ku kumpulkan dari hasil menipu.

Manusia hanya bisa berencana, tapi Tuhan yang menuliskannya. Karena pada tiap-tiap peristiwa yang hadir, selalu ada misteri yang tak terfikirkan oleh alam sadar manusia.

***

Langit tak lagi terang, rembulan perlahan muncul dari balik awan. Tepat dua malam aku tiggal disini. Udara siang dan malam yang tak jauh berbeda, membuatku ingin tetap dirumah. Sepertinya keberuntungan sedang memihakku malam ini. Sangat kebetulan ada yang mengetuk pintu depan. Wajar saja, semenjak bapak dipindah tugaskan ke kota, rumah ini hanya berisi kakek, nenek dan seorang pengasuh yang jarang sekali kehadiran tamu.

Malam ini aku kedatangan dua orang teman lama. Angga dan Rizky – teman main gundu ku sewaktu kecil. Mereka yang dulu sempat dimarahi bapakku karena berkelahi akibat kalah main gundu. Sudahnya malah aku yang dikejar-kejar mereka karena mangedukannya ke bapak. “Ah... aku rindu, aku rindu mereka semua...”

***


Bersambung...

Rabu, 18 Juni 2014

"Perjumpaan Sia-Sia III"



"Setiap pertemuan pasti ada perpisahan"

Cepat atau lambat pepatah ini akan terjadi pada siapapun, termasuk aku.
Iya, tentu ada airmata,
Tentu saja ada semilir duka.
Tapi aku percaya semua ini akan terlewati dan kembali baik-baik saja.

Aku juga manusia biasa,
Punya rasa rindu yang menggebu.


Aku rindu menjadi diriku sendiri,
Aku yang utuh.
Aku yang ku kenali,
Aku yang ku inginkan.

Memang semua tak lagi sama,
Tapi percayalah, ini yang terbaik.
Jangan ada benci apalagi caci, karena kita telah dewasa.
Bukankah dewasa berarti siap melupakan juga merelakan?


Kita masih bisa bertemu
Dalam nyata ataupun doa.
Kita masih bisa saling membahagiakan.
Dalam peluk, dalam tawa, semanis dulu.

Ini bukan kepergian,
Kita hanya sama-sama ingin meraih tujuan.

Tolong, tolong jangan anggap ini perpisahan.
Mungkin hanya raga yang terpisah,
Tapi hati ini masih saling bertautan.

Tubuhku memang tak lagi bersama kalian.
Tapi, izinkan aku menyelamatkan hati.
Agar perbedaan ini tak jadi bumerang untuk saling menyakiti.
Aku pergi karena aku ingin menjadi yang aku ingini.


*Note: Manusia juga perlu melankolis.

Minggu, 01 Juni 2014

"Metamorfosa"


Seperti kupu-kupu...
Menari diatas bunga yang bermekaran.
Meliuk di terpa hembusan alam,
Menciptakan gerakan yang lemah gemulai.

Seperti kupu-kupu...
Menari diatas bunga yang mulai tumbuh ditaman.
Warna warni yang terpantul oleh mentari
Menjadikannya perwujudan Mahakarya Tuhan.


Indah dan mempesona.


Makhluk itu kini telah bebas hinggap dimanapun ia suka. Semua tumbuhan pun kini mengharapkanya singgah di shelter mereka untuk sekedar mencicipi serbuk sari yang mereka punya, tentu saja dengan pengharapan timbal balik darinya.

Tapi kawan..
Tahukah engkau apa yang ia lakukan untuk menuju sebuah pencapaian?

Tak, itu tak seperti yang kau bayangkan.
Mana ada kupu-kupu yang punya warisan?!
Mana ada kupu-kupu yang dari lahir langsung menjadi kupu-kupu yang indah?!

Yang kutahu dunia ini tak ada hal yang benar-benar instant, sekalipun mie instant tak dapat dibilang instant.

Dahulu ia hanya sebuah telur yang tak berdaya, rapuh, dan terombang-ambing  oleh deru angin. Kemudian menetas menjadi ulat yang tertatih untuk melangkah, dan dicaci tiap tumbuhan yang di temuinya. Tersadar hidupnya belum berakhir sampai disitu, tapi bayangan pencapaian yang ia cita-citakan untuk dapat terbang lepas. Sampai akhirnya ia menemukan sebuah pohon untuk berkontemplasi- menyendiri dalam wujud sebuah kepompong. Bukan pasrah, melainkan merenungkan makna kehidupan, dan mencari sebuah pilihan dari sekian opsi untuk dilakukan.

Setelah segala perjuangan untuk bertahan dan meyakinkan diri akan sebuah pencapaian, ia terbangun dan bangkit untuk merentangkan sayapnya. tak ayal, sekali lagi ia harus tertatih untuk itu. Sayapnya yang masih basah pun harus di keringkan di bawah mentari Ia tak perduli walaupun panas terik menyengat tubuhnya, ia sadar bahwa selangkah lagi lah titik puncak pencapaiannya 

Akhirnya saat itu muncul juga, yaitu saat menjadi kupu-kupu yang sempurna-mencapai puncak perubahan yang dinantikan. Ia berubah menjadi mahluk yang indah dan menjadi perhatian sekitarnya, sekalipun banyak mata memerhatikan ia tersadar bahwa ia hanya berasal dari seekor ulat lemah yang tak berdaya.

"Semua ciptaan berhak memperjuangkan eksistensinya, sekalipun itu hanya seekor ulat yang bau tengik!" ujarnya. 

Kemudian ia terbang melintasi sebuah taman dan menemukan seekor ulat yang menunggangi segerombolan semut merah.

Selasa, 27 Mei 2014

Puisi Untuk Ayah dan Ibu



hanya satu pintaku
tuk memandang langit biru
dalam dekap seorang ibu

hanya satu pintaku
tuk bercanda dan tertawa
di pangkuan seorang ayah

apa bila ini
hanya sebuah mimpi
ku selalu berharap
dan tak pernah terbangun





Mocca - Hanya Satu

Rabu, 23 April 2014

"Dosa Yang Ke-100"



“Oh, Pujangga dari Timur, ke mana kah harus kuadukan dosa yang kulakukan?”



“Aku seorang nestapa yang tidak lagi mampu berjalan.”


“Oh, Penyair dari Barat, ke mana kah harus kuceritakan noda yang kuperbuat?”


“Aku seorang pandir yang bahkan tidak bisa merangkak.”


“Oh, arah angin yang berputar, sampaikan penderitaan ini kepada penguasa alam raya.”



Setelah teriak di atas tebing, pria itu kemudian berlutut. Rambutnya yang panjang, dibiarkan dipermainkan angin. Tubuhnya yang penuh dengan peluh, berkilauan diterpa cahaya bulan. Tidak ada lagi suara setelah dia tertunduk lesu, melainkan hanya angin malam yang berdesir dan lamat-lamat terdengar nyanyian binatang malam. Dia bertelanjang dada sebagai keyakinannya untuk lepas dari dosa dan noda. Hanya kain berwarna hitam selutut yang dikenakan untuk menutup auratnya. Hanya sebatas melepas pakaian, dia pun merasa sudah sedikit bebas dari begitu banyak beban yang menghimpit. Dia yakin dosa itu disebabkan pakaian hitam yang selama ini dikenakannya.


Pria ini adalah pembunuh yang tidak tahu jalan pulang. Sudah 99 orang yang dikirimnya ke alam baka. Mereka meregang nyawa oleh tangannya yang berlumuran darah. Sebilah pedang digunakan untuk memenggal mereka yang tidak disukainya. Semua ceceran darah korban dilap dengan lidahnya yang merah. Hingga suatu hari:


“Ingat Tuhanmu. Ingat hari pembalasan.”


Seorang wanita tua yang telah bercucuran darah menyampaikan kalimat terakhir. Sebelum akhirnya meregang nyawa, wanita itu sempat menatap Sang Pembunuh dengan tajam. Namun, matanya kemudian meredup seiring lepasnya nyawa dari raga.


Rupanya, ucapan wanita itu menggedor nurani yang telah lama terkunci rapat. Sang Jagal terkesiap. Pedangnya lepas dari genggaman. Ada sekelebat rasa cinta lewat di hatinya yang telah hitam. Sekeping kasih yang telah hilang di masa lampau, kembali terbersit di dalam dadanya. Tuhan dan Hari Pembalasan menjadi petir menggelegar dan mampu membangkitkan sejumput benih-benih kemanusiaan di dalam kalbunya.


Dia kemudian berlari meninggalkan jasad wanita malang yang menjadi korban ke-99. Tidak terasa, ada genangan air yang mengalir dari pelupuk matanya. Dia ingat dengan wanita yang pernah melahirkannya. Kala itu, wanita yang pernah membelainya dengan cinta, dibunuh oleh perampok berwajah sedih. Tebasan pedang yang diayunkan dari atas, memisahkan batang leher dari tubuh wanita renta tersebut. Kenangan itu membekas dalam alam bawah sadar Sang Pembunuh. Dia pun tumbuh menjadi pria bengis yang tidak kenal cinta dan kasih. Dia menggunakan pedang untuk menghabisi seluruh korbannya, sama dengan perampok berwajah sedih yang menghabisi nyawa ibundanya.


Sang pembunuh masih tertunduk. Lolongan serigala malam tidak digubrisnya. Dia menanti jawaban langit yang diyakininya datang dari Sang Penguasa alam raya. Sudah lebih dari sepertiga malam, dia hanya tertunduk. Malam yang kelam itu menjadi saksi baginya, untuk menghapus dosa dan noda.


***


Sang Pembunuh menelusuri jalan kecil menuju Lembah Harapan. Dia melangkah dengan penuh kepastian. Ada asa yang hendak diraih, yakni ampunan dari Sang Penguasa alam raya. Dorongan yang begitu kuat menyebabkan kedua kakinya yang melangkah, dirasakan tidak cukup. Dia membutuhkan seribu kaki agar bisa melesat dan sampai ke lembah itu dengan cepat. Semalam, dia mendapat bisikan yang hanya terlintas di dalam hati. Dia yakin, teriakannya di atas tebing, dijawab oleh Sang Penguasa.


“Pergilah ke Lembah Harapan. Engkau akan menemukan jawaban.”


Begitu bisikan yang mengalir di dalam darahnya. Tiba-tiba, ada energi yang melesak. Sel-sel di dalam tubuhnya kembali berkembang dan bekerja penuh semangat. Aliran darah yang dipompa kencang, dengan satu tujuan, yakni menuju ampunan Sang Penguasa alam raya.


Hamparan rumput tinggi hijau yang membentang, menghentikan langkah Sang Pembunuh. Matanya nanar ke sekeliling memperhatikan padang savana yang indah. Tidak ada yang tampak kecuali gubuk tidak jauh dari hadapannya. Sebuah tempat yang ditinggali oleh Sang Penyampai Kebenaran. Atapnya rumbia, dan dindingnya pelepah pohon nira.


“Aku ke mari karena mendapat bisikan gaib,” ujar Sang Pembunuh ketika tiba di pintu gubuk.


Seorang kakek berjubah putih duduk bersila memainkan tasbih di tangannya. Dia tidak menyahut. Matanya terpejam, sementara mulutnya tidak berhenti membisikkan pengagungan untuk Sang Penguasa alam raya.


“Aku ke mari atas bisikan gaib,” sahut Sang Pembunuh sekali lagi.


Kakek berjubah putih itu tetap asyik dengan tasbihnya. Dia tidak memperdulikan tamu yang ada di depan rumahnya. Matanya tetap tidak membuka. Dia memilih asyik memuji Sang Penguasa alam raya ketimbang menjawab Sang Pembunuh.


“Kakek berjubah putih, Aku kemari lantaran mendapat bisikan gaib di atas tebing tadi malam. Apa yang harus kulakukan sekarang?”


Setelah tiga kali disapa, Sang Penyampai Kebenaran merasa terusik. Upayanya untuk tidak bergeming, sirna. Matanya membuka perlahan-lahan.


“Tidak pantas bagi seorang pembunuh sepertimu mengganggu diriku. Aku tengah memuji Sang Penguasa. Tidak ada yang bisa kau lakukan. Neraka adalah tempat tinggalmu kelak,” kata Kakek Berjubah Putih itu.


“Apakah tidak ada kesempatan bagiku untuk memperbaiki diri?” Tanya Sang Pembunuh.


“Tidak ada. Dosamu sudah terlalu besar. Balasan yang layak kau terima adalah kekal di neraka selama-lamanya.”


“Lalu bagaimana dengan janji Sang Penguasa alam raya yang Maha Pengampun?”


“Tidak mungkin. Engkau telah membunuh 99 orang tak berdosa.”


Sang Pembunuh tertunduk lunglai. Dia merasa kehilangan pegangan. Harapannya untuk memperbaiki diri sirna. Asanya tercerabut dari lubuk paling dasar kalbunya. Dia merasa sia-sia menempuh perjalanan panjang ini. Jika Sang Penyampai Kebenaran saja mengatakan demikian, maka apa lagi yang bisa dilakukannya. Maka terbersit amarah di wajahnya, untuk membunuh Kakek Berjubah Putih itu. Baginya, dengan membunuh genap seratus orang, maka sudah terpenuhi kepuasan dari sisi liar jiwanya.


“Aku akan penggal lehermu, orang tua,” katanya dengan setengah berteriak.


Tak lama kemudian, pedang yang ada di pinggangnya berkelebat memutus leher Sang Penyampai Kebenaran. Kepalanya tergeletak ke tanah. Darah segar membuncah dari tubuhnya yang menggelepar. Sang Pembunuh menginjak kepala Kakek tersebut seraya menandaskan:


“Aku adalah Sang Pembunuh yang tidak kenal cinta dan kasih. Ketahuilah, Engkau adalah korban yang keseratus.”


Matanya berapi, napasnya memburu dan dadanya terguncang. Sang Pembunuh kemudian meninggalkan gubuk yang berada di Lembah Harapan.


***


“Sang Penguasa alam raya, Aku telah membunuh seratus orang. Aku adalah pembunuh. Aku pembunuh,” teriak Sang Pembunuh di atas tebing.


“Mana janji-Mu yang Maha Pengampun itu. Mana?” Dia kembali berteriak sekencang-kencangnya.


“Aku adalah Pembunuh. Aku akan membunuh hamba-hambaMu lebih banyak lagi.”


Sang Pembunuh tersengal-sengal. Dia lelah dengan harapan yang sirna. Tidak ada air mata dan penyesalan. Sepenuh jiwanya dipenuhi angkara murka. Dia kecewa kepada Sang Penguasa alam raya. Setelah lelah berteriak, Sang Pembunuh duduk bersimpuh. Kedua tangannya memegang lutut. Matanya nanar menatap tanah yang kering.


Tiba-tiba halilintar menggelegar. Tiga kali bunyi yang menakutkan itu memecah angkasa. Sang Pembunuh kaget bukan kepalang. Ada rasa ngeri di hatinya mendengar halilintar sekeras itu. Rasanya belum pernah dia mendapatkan petir di siang hari dengan keras seperti yang baru didengarnya. Tidak lama kemudian muncul asap yang membumbung ke udara di balik pohon. Sang Pembunuh bergetar menyaksikan asap yang kemudian berubah menjadi sosok manusia.


“Si…siapa kamu,” ujar Sang Pembunuh dengan terbata-bata.


“Jangan takut. Aku adalah utusan Sang Penguasa alam raya,” ujar sosok manusia tersebut. Kulitnya putih dan wajahnya indah. Dia pria yang mengenakan pakaian panjang berwarna jingga. Dia berjalan perlahan ke Sang Pembunuh.


“Sang Penguasa mendengar semua harapanmu. Jangan Engkau putus dari rahmatNya. Tetaplah mencari cara yang terbaik untuk mendapat ampunanNya,” ujar pria berwajah indah tersebut.


“Tapi aku telah membunuh seratus orang tak berdosa.”


“Tidak peduli seberapa dosaMu. Selama hidupmu belum berakhir, tetaplah berusaha.”


“Apa yang harus kulakukan sekarang?”


“Pergilah ke utara. Engkau akan mendapatkan semua harapanmu.” Setelah berkata demikian, sosok manusia itu kemudian kembali menjadi asap dan sirna bersamaan hembusan angin yang tiba-tiba mendesir di sekeliling.


“Terimakasih Sang Penguasa. Engkau tidak melupakanku. Aku akan ikuti perintahMu menuju utara,” bisik Sang Pembunuh.


Dia pun bergegas meninggalkan tempat untuk mencari ampunanNya.


***


Arah utara ternyata jalan yang penuh terjal dan berliku. Sang Pembunuh harus mengerahkan tenaganya untuk mencapai harapan. Dia bertekad untuk tidak berhenti sebelum ampunanNya diraih. Dia yakin Sang Penguasa alam raya tidak akan meninggalkan dirinya. Apalagi setelah kejadian kemarin, dia mendapat dorongan energi untuk senantiasa tidak lepas dari rahmatNya.


“Aku tidak boleh menyerah. Meski jalan yang kulalui penuh rintangan,” bisik Sang Pembunuh.


Dia lalu memanjat tebing yang curam. Tebing yang penuh dengan batu-batu tajam. Jika dia salah menginjak dan terpeleset, maka bisa dipastikan tubuhnya akan robek dengan batu-batu cadas yang runcing.


“Tunggu aku Sang Penguasa alam raya. Aku akan menggapai ampunanMu. Aku akan tunaikan harapanku. Sekali lagi tunggu aku,” ujar Sang Pembunuh.


Namun secara tidak sengaja, batu yang dia pegang pecah. Seketika itu, bebatuan yang dipijaknya tidak kuat menahan beban tubuhnya. Sang Pembunuh pun terperosok dari ketinggian tebing. Kepalanya membentur batu cadas yang ada di bawahnya. Kepalanya pecah. Dari rongga panca indera di kepalanya mengeluarkan darah. Dia meninggal dunia saat itu juga.


Dari langit, dua malaikat turun ke tempat jatuhnya Sang Pembunuh. Malaikat penjaga surga dan neraka berebut atas ruh Sang Pembunuh. Masing-masing merasa berhak untuk menjemputnya.


“Dia telah menempuh perjalanan panjang dan sulit untuk menggapai ampunanNya. Dia berhak dibalas dengan kebaikan,” ujar malaikat penjaga surga.


“Tidak, dia belum sepenuhnya bertobat. Dosanya tidak diampuni. Ingat, sudah seratus orang tidak bersalah tewas di tangannya,” timpal malaikat satunya.


Dari langit, tiba-tiba terdengar suara yang menggelegar.


“Hitung jarak tempuh yang sudah dilaluinya. Jika dekat dengan tujuan, maka surga balasannya, jika tidak maka neraka tempat tinggalnya.”


Kedua malaikat itu pun sibuk mengukur jarak tempuh yang sudah dilalui Sang Pembunuh. Meski belum lama Sang Pembunuh meninggalkan tebing tempatnya bersimpuh, ternyata jarak menuju utara sudah lebih dekat. Malaikat penjaga surga pun kemudian menjemput ruh Sang Pembunuh untuk mengantarnya di tempat terindah selama-lamanya. (*)

Untuk kita para pendosa, Harapan akan selalu ada.


"Wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas kepada diri sendiri. Janganlah kamu berputus asa daripada rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa. Sugguh Dialah yang Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang" QS. Az-Zumar: 53

Referensi: 
  1. Fadilzein
  2. Blogger.com
  3. Kitab Suci Al-Qur'an

Pageviews

BisikanAlamRaya@2014. Diberdayakan oleh Blogger.