Masihkah kuserukan nama-Mu, ketika kegetiran
sudah melekat dalam diri?
Doa-doa yang kini pupus di rangkaian malam
Kurapikan kelenjar-kelenjar yang sungkan
membangkitkan gemetar di simpuh siku-siku
Dengan empat bait-bait puisi yang
kutulis
Haruskah kuberitakan tingkat dimana alfa, beta, dan gama bertemu?
Berdiam dalam keheningan di tembok batu
Mencari satu kebenaran pasti jati diri
Dunia fana yang tak akan kuingkari
Karena untuk kusebut, nama-Mu telah terecohkan
Oleh kebisingan alam dunia yang memberikan kenikmatan fana
Ku telah melupakan bagaimana harus persembahkan
Raga, dan jiwa yang bukan milik sepenuhnya